Sunday, June 2, 2013

Membina Rumah Tanpa Teriakan

Bismillah walhamdulillah...

Artikel di bawah telah diterjemah semula untuk memudahkan pemahaman. Artikel asal.

Penulis Asal: Mam Fifi (Fifi Proklawati Jubilea SE, MSc)
Beliau merupakan founder dan conceptor Jakarta Islamic School.


Memang cuma kamu saja yang boleh berteriak, kalau aku yang berteriak kamu kata aku bising,” ucap Ibu Anto membalas amarah suaminya dengan berteriak. Anak-anak pun lalu menutup telinga mereka.

Pemandangan yang biasa terjadi dimana suami dan isteri dirumah itu berteriak membuat anak-anaknya sampai berfikir, apakah ibu masih sayang pada ayah, apakah ayah mencintai ibu? Lalu mengapa berdua tidak rukun dalam rumahtangga.



Terkadang dimata anak-anak, masalah antara ayah dan ibu dipandang biasa-biasa sahaja. “Tidak penting,” menurut fikiran Anisa, anak sulung Ibu Anto yang duduk di kelas3 SMU.  “Aku akan menghadapi peperiksaan, tapi ibu marah-marah melulu,  kalau ayah marah, maka ibu juga balas marah, lalu kalau belum selesai marahnya pada ayah, maka marahnya diteruskan kepada anak-anaknya sehingga rumah jadi bising, bagaimana aku boleh belajar..” keluh Anisa tentang suasana di rumahnya. Anisa pun lanjut menggerutu, adik-adik pun menguatkan suara televisyen menonton bola Indonesia lawan Qatar, ditambah lagi suara ibu melenting, bentakan ayah yang menderu. Lalu entah bila berhentinya dan tenangnya rumah ini.

Anisa pun akhirnya tidak sabar lagi maka dia pun berteriak, “Adikk..perlahankan suara tv nya”. Tidak lama kemudian teriakan Anisa dibalas dengan teriakan sang adik. “Gol!!!!”. Padahal tidak gol juga. Hal ini membuat kakaknya Anisa marah, ibu juga marah kerana ibu masih kesal pada ayah, dan ayah sudah masuk bilik tidur, maka kakak dan ibu serentak berteriak kuat dank eras, mengkagetkan adik yang sedang asyik menonton langkah-langkah kaki menerjang bola di layar kaca. Perlahankan tv nya!!!,” kakak berteriak. “Matikan tv nya!!!,” ibu pula berteriak kuat-kuat. Lalu adik dengan panik mematikan televisyen dengan kesal dan marah, sambil masuk bilik dengan membanting pintu. Mendengar kekecohan itu, sang ayah keluar untuk melihat apa yang terjadi. “Aduh…kecohnya rumah ini,” ucap ayah. “Bolehkah kalian semua diam. Ayah letih, penat, baru balik kerja..” bentak ayah keras-keras.

Subhanallah, semua masalah yang ada selalu diselesaikan semuanya dengan teriakan. Bila hal itu terjadi setiap malam, walaupun kalau siang agak reda kerana rumah sepi tidak ada orang, anak-anak sibuk di sekolah, ayah di pejabat dan ibu hanya sendiri di rumah, maka rumah seperti akan dididik dan terdidik dengan suara keras dan bentakan. Padahal, Al-Quran menyuruh kita untuk merendahkan suara sesuai dengan Surah Luqman yang berbunyi:

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keldai. (Luqman:19)

Apakah kita harus menyelesaikan masalah dengan bentakan dan teriakan? Apakah rasa kesal harus diungkapkan dengan bentakan dan teriakan? Apakah kita ingin membangun dan membina rumahtangga dengan bentakan?

Mari ayah dan ibu, kita mulai dari diri kita sendiri untuk mengecilkan suara. Anggota keluarga kita kan bukan orang yang tuli. Semua pendengarannya bagus. Selain itu, rumah kita pun kecil areanya, jadi mulailah dengan ayah dan ibuuntuk mengecilkan suara. Nescaya anak-anak akan lebih tenang dan desakan untuk berteriak berkurang. Janganlah kita ciptakan aura berteriak di dalam keluarga. Marilah kita cuba bersikap tenang dan bersuara perlahan, insyaAllah akan terbangun rumahtangga yang lebih tenang dan sakinah.